-

Melek Huruf

Ketika Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen Pendidikan Luar Sekolah (sekarang PNFI) Depdiknas menawarkan kepada perguruan tinggi untuk ikut berpartisipasi dalam Gerakan Nasional Program Pemberantasa Buta Aksara (GNP-PBA), maka Universitas Hasanuddin sebagai Perguruan Tinggi terbesar di kawasan Timur Indonesia berkewajiban ikut mengambil bagian dalam gerakan ini, paling tidak di Provinsi Sulawesi Selatan. KKN Tematik-PBA merupakan program mata kuliah universitas yang dikemas secara khusus dalam kegiatan pemberantasan buta aksara yang diikuti oleh mahasiswa sebagai tenaga community development.
 
Program KKN Tematik-PBA menarik minat banyak mahasiswa karena selain gratis dan mendapat biaya hidup, juga sebagai arena pengabdian mahasiswa yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Selain fokus pada pemberantasan buta aksara, mahasiswa program KKN Tematik-PBA aktif menjalankan fungsi pemberdayaan lainnya, misalnya bimbingan keterampilan/life skill, penyuluhan hukum, penyediaan layanan kesehatan, bimbingan teknis, dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan HUT Kemerdekaan RI. Pelaksanaan kegiatan ini sesuai dengan visi Universitas Hasanuddin yang selain mengembangkan budaya bahari dan IPTEKS, juga menjadi agent of change dan peleburan Unhas ke dalam masyarakat (communiversity).
 
Selama mahasiswa berada di lokasi dan menjalankan tugas serta tanggung jawabnya selaku tutor buta aksara, maka supervisor, kepala dinas pendidikan setempat selaku pembimbing eksternal, tim pengelola program dari LPM dan P2KKN Universitas Hasanuddin, serta tim Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen PNFI Depdiknas RI aktif melakukan monitoring. Tim pengelola program dari LPM dan P2KKN Universitas Hasanuddin aktif melakukan monitoring, selain bertukar pikiran dengan mahasiswa/tutor mengenai hambatan pelaksanaan kegiatan dan solusinya serta perbaikan kegiatan PBA kedepan, juga bertatap muka langsung dengan warga belajar guna mengorek keterangan mengenai kemajuan dan kesulitan yang mereka hadapi. Guna menjaga akurasi dan keberlangsungan kegiatan PBA di lokasi yang menjadi sasaran, monitoring dilakukan 1 kali dalam 2 minggu. Melalui kegiatan monitoring ini, pengelola program banyak memperoleh temuan yang berharga bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan PBA selanjutnya, seperti perlunya pengadaan kaca mata bagi warga belajar yang rata-rata sudah berumur di atas 40 tahun.
 
Dari data penduduk buta aksara Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2008 terungkap bahwa penduduk buta aksara usia 15 tahun keatas di Indonesia masih mencapai angka 9,55% atau sekitar 11,1 juta orang, sedangkan khusus untuk Provinsi Sulawesi Selatan jumlahnya adalah 479.465 orang yang tersebar di 23 Kabupaten/Kota, atau dilihat dari skala nasional provinsi Sulawesi Selatan berada pada posisi ke-9 diantara 33 provinsi di Indonesia yang terbanyak memiliki penduduk buta aksara.
 
Menurut data yang ada bahwa sejak tahun 2007 hingga 2008 Universitas Hasanuddin melalui program KKN Tematik-PBA telah berhasil menuntaskan 1.860 warga masyarakat dari kebuta-aksaraan yang tersebar pada 5 Kabupaten, yakni Kabupaten Bone, Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bulukumba. Dalam tahun 2009 ini, LPM Universitas Hasanuddin kembali mengajukan pada Direktorat Pendidikan Masyarakat Depdiknas RI agar memperoleh jatah keaksaraan sebanyak 2.000 orang yang rencananya disebar pada 7 Kabupaten, yakni Kabupaten Bone, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Tana Toraja.

Senin, 29 Juni 2009 | 15:57|
X